Pesan Pembuka

Selamat Datang Kaum Intelektual Sang Pemerhati Ekonomi

Minggu, 08 Mei 2011

PROSPEK EKONOMI INDONESIA TAHUN 2011

KONDISI EKONOMI DAN PROPEK EKONOMI INDONESIA KEDEPANNYA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perekononiam merupakan faktor penunjang sehingga bisa dikatakan maju atau tertinggal sebuah wilayah. Sebuah Negara adalah salah satu wilayah yang cukup luas dan didalamnya terdapat beberapa unsure material dan non material. Namun, yang paling umum adalah penduduk, sumber daya alam yang terkandung, kebudayaan, dan kondisi alam. Dari beberapa Negara yang ada di dunia ini, saya hanya membahas bagaimana kondisi perekonomian di Indonesia. Indonesia merupakan sebuah Negara yang cukup luas, baik untuk wilayah daratan maupun wilayah lautan. Selain itu, Indonesia juga tergolong dalam Negara yang berpenduduk yang padat Ke-4 di dunia.

Setelah rakyat Indonesia memperoleh kemerdekaanya, telah terjadi pergantian roda pemerintahan. Yang pertama, adalah masa orde lama, masa orde baru, dan masa reformasi. Sehingga kebijakan dalam mengatur sebuah Negara, terus cenderung berubah. Dan berdampak pula pada kondisi perekonomian di Indonesia, yang menggiring kepada tataran Negara Dunia Ke-3 yang sedang berkembang. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Indonesia adalah Negara yang mempunyai sumber daya alam yang cukup banyak, akan tetapi sumber daya manusia yang masih terbelakang.

Sampai saat ini, Indonesia belum bisa keluar dari Negara yang sedang berkembang. Banyak sumber daya alam yang tereksploitasi oleh pihak asing atau swasta. Jika kita kembali mendalami apa yang tercantum makna dari Ideologi Pancasila dan UUD 1945, maka cita-cita Bangsa Indonesia belum tercapai, yaitu mensejahterahkan rakyat Indonesia. Kesejahteraan memang merupakan yang ideal menurut kita, yang rasanya tidak akan mungkin terealisasi. Karena, dikatakan rakyat sudah sejahterah ketika semua atau sebagaian kebutuhannya bisa terpenuhi.

Jika kita menolek pada kehidupan kita sekarang di Negara yang kita cintai ini, maka sunguh berat rasanya keadilan dan kesejahteraan akan tercapai. Karena, sekarng telah terjadi beberapa ketimpangan sosial dan ekonomi. Hanya sebagaian kecil saja orang yang merasakan kesejahteraan dsan tidak bisa berlaku adil kepada sesama manusia. Kita memang sadari, bahwa kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain (makhluk sosial), namun karena adanya penjenjangan antara orang kaya dengan orang miskin yang menyebabkan munculnya sifat individualistik. Jangan dibuang-buang, jangan diminta-minta semua adalah salah satu semboyang favorit kehidupan, dimana hidup sederhana secara sukarela adalah kunci keberhasilannya. Kekayaan hidup yang melimpah-ruah adalah hasil dari kemampuannya untuk menangkap, menggunakan, menyimpan, dan berbagi energi apapun juga yang diperolehnya, dengan efesien yang luar biasa.

Kegiatan ekonomi manusia dapat dan harus mengakui dan mmeberikan ganjaran kepada perilaku kooperatif untuk tujuan penggunaan energi dan sumber daya dalam bentuk yang efisien, dalam menyediakan sarana hidup yang memadai bagi semua, dan meningkatkan kemampuan produktif dari kumpulan modal hidup yang dinikmati bersama.

Ketika kita kaji lebih dalam makna dari kemerdekaan, maka Indonesia bebas dari penjajah secara langsung, namun secara tidak langsung Negara Indonesia masih dijajah dari segi ekonomi, sehingga kita bisa katakan bahwa Indonesia adalah Negara Setengah Jajahan Setengah Feodal. Berbicara masalah perekonomian sebuah Negara, itu dibahas dalam ekonomi makro. Ekonomi makro merupakan cakupan ilmu yang membahas bagaimana kita memahami kondisi perekonomian dalam wilayah luas atau masyarakat banyak. Lahir dari pembahasan diatas maka kami ingin memahami bagaimana Prospek Ekonomi Makro Indonesia Tahun 2011.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan beberapa masalah dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana kondisi perekonomian Indonesia sampai sekarang ?

2. Bagaimana Prospek Ekonomi Makro Indonesia Tahun 2011 ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam pembuatan makalah ini, yaitu :

a. Mengetahui dan memahami kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

b. Mengetahui Prospek Ekonomi Makro Indonesia Tahun 2011.

D. Manfaat penulisan

Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, diharapkan hasil dari penulisan makalah ini bisa memberikan kontribusi teori bagi penulisan makalah yang lain, yang sejenis dengan judul makalah ini. Secara praktis, hasil penulisan makalah ini diharapkan juga dapat bermanfaat sebagai berikut:

a. Penulis dapat memahami bagaimana kondisi perekonomian sampai sekarang.

b. Penulis dapat memahami prospek ekonomi makro tahun 2011.


BAB II PEMBAHASAN

A. Kondisi Perekonomian Indonesia Sampai Sekarang.

Menapaki kuartal terakhir 2010, ada hawa optimis yang berhembus dalam ruang perekonomian kita. Harian The New York Times, edisi 5 Agustus 2010 menyebut: Indonesia adalah sebuah model ekonomi, setelah melewati krisis lebih dari sepuluh tahun. Sementara Financial Times (12/08/2010) mengatakan, perekonomian Indonesia merupakan macan yang tengah terbangun.

Tentu saja kita layak optimis. Namun, tetap harus waspada, karena ada beberapa “tantangan struktural” yang juga serius. Kegagalan kita mengelola persoalan-persoalan mendasar, justru akan menjebak kita. Kita hanya akan menjadi bangsa yang labil, karena hanya menjadi target investasi portofolio jangka pendek.

Masih melanjutkan cerita sukses, prospek perbankan kita juga tak kalah kinclong. Di tengah ambruknya sistem perbankan global, perbankan Indonesia justru membukukan tingkat keuntungan yang tinggi, selain menunjukkan tingkat kehati-hatian. Tingkat Net-Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia yang mencapai angka sekitar 5,7 persen, merupakan angka paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara sekitar. Bandingkan dengan Singapura yang NIM nya hanya sekitar 2 persen, Malaysia 2,3 persen, Thailand 3,3 persen. Jadi, tak salah jika para bankir asing sangat berminat masuk ke Indonesia, di samping karena potensi pasarnya yang masih sangat luas.

Dalam laporan Bank Dunia, Financial Access 2010, terlihat bahwa jumlah penabung per 1.000 orang di Indonesia masih sangat kecil, yaitu di bawah 1.000. Sementara, Thailand sudah mencapai sekitar 1.500. Bahkan Malaysia sudah lebih dari 3.000. Kecenderungan yang sama juga terjadi dalam hal jumlah pinjaman per 1.000 penduduk. Kita sejajar dengan Kamboja dan Mongolia, dan tertinggal jauh dari Malaysia. Bahkan kita jauh di bawah angka rata-rata untuk negara sedang berkembang.

Data lain yang juga menunjukkan “dangkalnya” sektor finansial di Indonesia adalah rasio jumlah uang beredar (broad money/M2) terhadap PDB yang juga masih kecil, dan bahkan ada kecenderungan semakin mengecil hingga tahun 2007 lalu. Tentu saja, hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari otoritas moneter dan pemerintah.

Jika pemerintah gagal mendinamisir sektor produksi, melalui peningkatan kapasitas investasi riil, dikuatirkan potensi investment grade yang sudah di depan mata juga tidak bisa diraih. Lembaga pemeringkat tentu tidak bisa dikelabui dengan menutup fakta-fakta riil di lapangan. Kalaupun sekarang modal asing masuk deras, itu bukan semata-mata karena alasan fundamental ekonomi domestik, tetapi juga faktor eksternal.

Pasar modal Indonesia masih dinilai murah dibandingkan dengan bursa regional lainnya seperti China dan India dengan PER 21 dan 20,5.Price earning ratio (PER) BEI diprakirakan berada pada tingkat 13-15% pada 2010. Nilai PER tersebut masih jauh di bawah rerata historisnya yaitu sekitar 35 Yen. Ekonomi dunia semakin kondusif karena penetapan suku bunga global yang relatif rendah sehingga tidak berpotensi membebani pelaku usaha international. Sebagai referensi tingkat bungaFederal Reserve F und Target sekitar 0,25%, Euro stabil pada 1% dan Yen di 0,1-0,2% sampai akhir 2010.

Salah satu modal penting perekonomian Indonesia 2010 adalah capaian laju inflasi. Pada April 2010, inflasi tercatat 0,15 persen. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, capaian ini tergolong bagus. Dalam empat bulan pertama 2010, inflasi berhasil dikendalikan hingga 1,15 persen. Jika dihitung secara proporsional, inflasi 2010 akan mencapai 4,6 persen. Namun dengan memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan tarif listrik pada medio 2010, serta adanya liburan sekolah pada bulan Juli, puasa pada bulan Agustus dan Lebaran pada bulan September 2010, maka sangat boleh jadi inflasi akan berada di atas 5 persen.

Inflasi rendah pada triwulan I/2010 terutama didukung oleh stabilitas harga pangan, yang pada bulan-bulan pertama setiap tahun biasanya berpotensi meningkat karena faktor musiman. Bisa karena banjir, kegagalan panen, buruknya distribusi barang, dan seterusnya. Semua faktor ini bisa dibilang tidak terjadi, terutama pada April 2010. Faktor lain yang bisa menyebabkan inflasi adalah kurs rupiah. Rupiah terus menguat dan stabil pada level antara Rp 9.000 hingga Rp 9.300 per USD. Penyebabnya sangat jelas, yakni karena arus modal asing jangka pendek yang memborong saham dan surat berharga domestik. Bahkan cadangan devisa yang dikuasai Bank Indonesia (BI) mencapai angka tertinggi dalam sejarah, yakni USD 77 miliar.

Banyak pihak meyakini, ekonomi Indonesia tahun depan akan melanjutkan kegemilangannya. Kemampuan ekonomi Indonesia untuk bertahan di masa krisis keuangan global 2008 hingga meraih pertumbuhan yang baik di tahun ini, menjadi modal berharga yang bisa makin meperkokoh dan meningkatkan fundamental ekonomi di tahun 2011. Kebijakan lanjutan yang diumumkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia , Darmin Nasution pada 29 Desember 2010 ini bertujuan untuk untuk memperkuat stabilitas moneter dan sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dan pada saat bersamaan memperkuat ketahanan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gejolak perekonomian.

Dalam siaran pers Bank Indonesia ini juga menginformasikan secara gambling 23 kebijakan lanjutan yang terdiri dari, 2 kebijakan penguatan stabilitas moneter, 6 kebijakan mendorong peran intermediasi perbankan, 9 kebijakan meningkatkan ketahanan perbankan, 3 penguatan kebijakan makroprudential, dan 3 penyempurnaan kebijakan dalam penguatan pengawasan. Dari 23 penyempurnaan kebijakan menutup tahun 2010 dan akan berlaku pada tahun 2011 ini, ada 3 kebijakan lanjutan yang membahas mengenai perbankan syariah secara langsung yaitu mengenai Pengaturan Penilaian Kualitas Aktiva Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah serta Kualitas Aktiva Bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, penyempurnaan Pengaturan Restrukturisasi Pembiayaan pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah dan penyempurnaan Batas Maksimum Pembiayaan Dana (BMPD) BPR Syariah.

B. Propek Ekonomi Makro Tahun 2011

Banyak pihak meyakini, ekonomi Indonesia tahun depan akan melanjutkan kegemilangannya. Kemampuan ekonomi Indonesia untuk bertahan di masa krisis keuangan global 2008 hingga meraih pertumbuhan yang baik di tahun ini, menjadi modal berharga yang bisa makin meperkokoh dan meningkatkan fundamental ekonomi di tahun 2011. Indikator-indikator makro lainnya yang kerap dijadikan acuan optimisme ini pun tampak sangat kondusif.

Bank Indonesia, seperti dikutip Reuters, melansir prakiraan peningkatan foreign direct investment (FDI) hingga mencapai 14,4 milyar dolar AS di tahun 2011, dibandingkan 12,5 miliar dolar AS di tahun 2010. hal ini senapas dengan sentimen asing portofolio. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi, para analis ekonomi umumnya meproyeksikan kisaran enam persen di tahun depan, atau masih dalam kecenderungan ekspansif. Komite Ekonomi Nasional (KEN) bahkan menilai, pertumbuhan ekonomi nasional dalam dua tahun belakangan sudah dilirik oleh dunia internasional.

Selama satu dekade terakhir, rasio utang terhadap produk domestik bruto (GDP) Indonesia juga terus menurun secara drastis. Di sisi lain, salah satu lembaga pemeringkat, Fitch telah menaikkan peringkat Indonesia satu tingkat (notch) di bawah investment grade. Ini berarti posisi Indonesia sudah sejajar dengan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India dan China).

Apabila melihat besaran makro ekonomi Indonesia yang sudah melampaui sejumlah negara yang posisinya dua notch lebih tinggi, peluang Indonesia untuk masuk investment grade di tahun 2011 cukup besar. Jika benar-benar terjadi, investor institusi internasional yang memiliki dana raksasa akan makin meminati pasar Indonesia.

Sejumlah tantangan harus dilalui dan diantisipasi agar prospek ekonomi Indonesia bisa meningkat lebih baik lagi. Tantangan-tantangan ini berasal dari wilayah domestik maupun global. Misalnya saja, masalah inflasi , infrastruktur, perubahan iklim, politik dan hukum, dan masih banyak lagi risiko domestik. Sedangkan permasalahan global yang harus diantisipasi antara lain masih tersendatnya pemulihan ekonomi negara maju, tantangan geopolitik dan geoekonomi, perang kurs serta tantangan-tantangan global lainnya.

Jika tantangan dan risiko bisa diantisipasi, ekonomi Indonesia akan melesat makin kencang. Pada gilirannya, kondisi ekonomi yang baik membuat sektor industri dan bisnis 2011 kian bersinar cerah. Berbagai sektor industri di Indonesia, baik industri besar maupun kecil, dengan aman bisa melanjutkan pengembangan produk dan penetrasi pasar yang telah direncanakan. Didukung proyeksi pendapatan perkapita Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun, perkembangan sektor industri akan menuju tren positif. Pendapatan meningkat berarti daya beli meningkat. Tren setiap industri tahun depan pun dapat terus berjalan sesuai selera dan keinginan pasar.

Industri properti, jasa keuangan, teknologi, otomotif, elektronik, kesehatan, fashion dan hampir semua industri lain akan meneruskan pertumbuhan positifnya. Di tahun depan, mereka akan tetap gencar menciptakan inovasi dan merancang strategi untuk mencapai target pertumbuhan, penjualan, serta keuntungan yang meningkat. Secara umum, prospek perekonomian Indonesia tahun 2011 sangat menjanjikan. Dan dengan demikian, potensi untuk memperolah gelar investment grade bukanlah hal yang mustahil. Tetapi, tetap saja ada persoalan-persoalan yang harus segera diatasi. Dan jika tidak, lagi-lagi kita berpotensi akan kehilangan kesempatan untuk kesekian kalinya, di berbagai bidang. Pada prinsipnya, ada dua bidang besar yang masih menjadi kendala perekonomian kita untuk masuk dalam kritria perekonomian yang kuat. Tantangan pertama terkait dengan masih relatif kecilnya proporsi sektor keuangan kita terhadap skala perekonomian kita yang sangat besar. Dengan demikian, isu financial deepening masih sangat relevan untuk direspon.

Persoalan struktural kedua terkait dengan tingkat daya saing sektor riil kita yang masih relatif buruk. Meski World Economic Forum (WEF) dalam “World Competitiveness Report” telah menaikkan indeks daya saing kita dari 54 menuju 44 untuk periode 2010-2011 ini, tetapi tidak serta-merta terjadi perubahan mendasar. Dari laporan tersebut, terlihat bahwa membaiknya tingkat daya saing kita lebih didorong oleh perbaikan faktor-faktor makro ekonomi, seperti tingkat inflasi yang terjaga, pertumbuhan yang relatif tinggi di tengah krisis global, suku bunga yang reletif rendah dsb.

Namun, kalau kita tengok sisi fundamental dari daya saing, seperti ketersediaan infrastruktur, dukungan birokrasi serta kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat, kita masih terbilang buruk. Dengan demikian, masih ada banyak pekerjaan yang diselesaikan untuk benar-benar meningkatkan daya saing kita. Bisa jadi, kalau kita hanya bertumpu pada stabilitas makro, tahun depan kembali melorot, kalau terjadi goncangan pada sisi makro ekonomi. Tanpa perbaikan infrastruktur, ketersediaan sumber daya energi serta dukungan birokrasi, sektor riil pada dasarnya tidak akan bergerak cepat. Dan jika itu terjadi, stabilitas sektor finansial tidak akan berarti banyak dalam peningkatan kapasitas ekonomi. Konkritnya, tidak akan ada pergerakan sektor produksi yang meningkatkan daya beli masyarakat, dan akhirnya kemampuan membayar pajak. Dan jika perbaikan struktural gagal dicapai oleh Indonesia, sebenarnya perekonomian kita hanya layak untuk menanam modal portofolio saja, yang bisa angkat kali sewaktu-waktu ada dorongan, baik dari sisi domestik maupun global. Tahun 2011 adalah penentuan, apakah potensi ekonomi Indonesia akan benar-benar terealisasi, atau sekedar ilusi. Dan untuk tidak membuat ilusi, maka pekerjaan konkrit sudah menunggu: membangun infrastruktur, mereformasi birokrasi, merancang kebijakan energi, pengembangan industri dsb.

Jakarta (15/12/2010), penasehat Presiden RI untuk masalah ekonomi, Dr Chatib Basri, mengungkapkan prospek ekonomi makro tahun 2011 dan kemungkinan risiko yang akan dihadapi.

Menurut anggota Tim Penasehat untuk IMF Asia Pasifik, risiko yang mungkin muncul pada tahun 2011 salah satunya adalah dampak dari Eropa yang relatif terbatas. Dan jika arus masuk kapital terus berkelanjutan, Dr Chatib memprediksi bahwa akan terjadi tekanan pada suplai uang. “Harga bahan pangan dapat meningkat dan harga minyak yang lebih tinggi akan terjadi pada tahun 2011,” imbuhnya.

Selain itu, Dosen Senior FE-UI menggaris-bawahi perilaku Bank Indonesia (BI). Jika BI tidak membiarkan nilai tukar mata uang asing melakukan penyesuaian, menurut Dr Chatib, neraca BI akan berada dalam kesulitan dikarenakan biaya yang diperlukan untuk melakukan sterilisasi (Foreign Exchange diinvestasikan dalam US T Bills dengan return 0% vs sterilisasi melalui SBI sebesar 6,5%). ”Jika BI menaikkan bunga, maka hal itu akan semakin mendorong arus modal masuk. Tapi jika BI tidak dapat mengelola ekspektasi inflasi, maka inflasi akan naik,” ujar mantan Deputi Menteri Keuangan untuk G-20.

Salah satu hal menarik berkaitan dengan investasi di Indonesia, menurut Dr Chatib, adalah meningkatnya penanaman modal di luar pulau Jawa dan Sumatera mencapai sekitar 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Dia juga menambahkan bahwa industri yang labour-intensive masih harus menghadapi beberapa masalah, namun industri komoditas dan pertambangan akan masih menjanjikan. Bagaimana Forecast Ekonomi Makro 2011. Demikian kesimpulan Dr Chatib seperti dilansir tabel berikut.

Picture2

Indikator perekonomian Indonesia di akhir tahun 2010 ini memperlihatkan tanda-tanda positif. Cadangan devisa sudah mencapai angka sekitar 93 miliar dollar AS. Indeks saham BEI sudah mencapai angka di atas 3600. Rupiah cukup kuat bergerak di sekitar Rp 8900 -9100/USD. Ketiga hal di atas tersebut menguat disebabkan oleh aliran modal asing ke Indonesia yang sangat luar biasa, khususnya ke pasar modal dan pasar uang. Termasuk, naiknya harga-harga komoditas dasar di pasar global membuat perekonomian Indonesia semakin membaik. Di samping itu, gaya pemerintahan sekarang yang sangat pro pasar bebas, sehingga para investor asing merasa sangat nyaman berbisnis di Indonesia. Oleh karena itu, dalam jangka pendek perekonomian Indonesia memiliki prospek yang sangat bagus, dan di tahun 2011 perekonomian Indonesia akan semakin membaik.

Untuk pembangunan ekonomi domestik, saya melihat distribusi uang dari sektor perbankan ke sektor usaha sudah semakin membaik. Peran bank umum besar dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) semakin luar biasa untuk membantu keuangan usaha kecil menengah. Saat ini mendapatkan modal usaha dari bank untuk usaha kecil menengah mungkin tidak sesulit zaman dulu. Sekarang bank semakin memahami kekuatan usaha kecil menengah dan memiliki motivasi yang sangat luar biasa untuk membantu keuangan usaha kecil menengah. Artinya, perekonomian domestik dengan kekuatan usaha kecil, menengah, dan usaha non formal akan memperkuat fondasi perekonomian domestik Indonesia di sepanjang tahun 2011. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2011 saya perkirakan akan berada disekitar 5,8% – 6,2%. Rupiah akan berada di sekitar 8900/9400 per dollar Amerika Serikat. Dan saya sangat percaya di tahun 2011 perjalanan perekonomian Indonesia akan terlihat seperti di tahun 2010.

Untuk memperkecil risiko yang tidak diinginkan, perekonomian Indonesia harus selalu dikelola secara sangat berhati-hati. Sebab, dana-dana investasi yang masuk cukup besar ke pasar modal dan pasar uang tersebut berpotensi sebagai dana-dana spekulasi. Untuk itu, saatnya kita semua tidak terlalu terlenah oleh pujian-pujian dari berbagai lembaga internasional terhadap kemajuan ekonomi Indonesia. Kita semua harus selalu optimis dalam melihat masa depan ekonomi kita, tapi kita juga harus cerdas memahami realitas yang kita miliki saat ini. Di samping itu kita harus jujur atas keterbatasan energi listrik kita untuk mendorong terciptanya investasi di sektor riil. Saya sering berkeliling Indonesia, dan saya sering melihat listrik mati di jam-jam produktif bisnis. Persoalan infrastruktur sangat perlu di perhatikan. Hal yang paling sederhana adalah persoalan macet di jalan raya. Hampir semua kota-kota bisnis dan industri di Indonesia mengalami hambatan dalam distribusi produk dan jasa secara efektif, efisien, dan produktif. Dan semua ini disebabkan tidak terkelolanya jalan raya secara baik, sehingga macet di mana-mana dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah harus lebih fokus untuk pemerataan dan pembangunan ekonomi domestik. Industri dalam negeri harus lebih dilindungi dan jangan dibiarkan menjadi korban dari industri murah China. Jangan terlalu terlenah dengan angka-angka ekonomi makro, tapi perhatikan sifat dari angka-angka ekonomi makro tersebut. Manfaatkan momentum positif perekonomian Indonesia di tahun 2011 untuk memperkuat fondasi sektor usaha perkebunan, pertanian, perikanan, dan energi. Manfaatkan potensi kreatifitas masyarakat Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik. Alam Indonesia yang luar biasa indah ini seharusnya mulai dikelola secara profesional untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Semoga perekonomian Indonesia selalu maju pesat untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Prospek Perekonomian di Indonesia diperkirakan akan lebih baik dari perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6,0% pada tahun ini dan di perkirakan akan meningkat menjadi 6,0-6,5% pada 2011. Di samping tetap kuatnya permintaan domestik, perbaikan terutama bersumber dari sisi eksternal sejalan dengan pemulihan ekonomi global, seperti terlihat dari ekspor yang mencatat pertumbuhan positif sejak triwulan IV-2009 . Hal itu juga menjadi alasan terbesar prospek perekonomian Indonesia mampu bertahan dan berkembang.

Adapun alasan lain yaitu Pemulihan ekonomi global sangat jelas terlihat dari berbagai indikator ekonomi baik di negara maju (Amerika Serikat dan Jepang) maupun di kawasan Asia (Cina dan India). Pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia. Dengan demikian prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula. Dalam Kegiatan Ekspor Impor di Indonesia, Kinerja ekspor non migas Indonesia yang pada triwulan IV-2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi, yakni mencapai 17% dan masih berlanjut pada Januari 2010.Hal itu tidak hanya terjadi pada komoditas pertambangan dan pertanian, tetapi juga ekspor komoditas manufaktur yang mulai meningkat.

Perkembangan ini mendukung pertumbuhan di sektor industri dan sektor perdagangan yang lebih tinggi dari perkiraan awal. Sementara itu, aktivitas impor sedikit meningkat sejalan dengan peningkatan ekspor tersebut, meskipun pada tingkat yang masih rendah. Transaksi berjalan di triwulan I-2010 diperkirakan mencatat surplus yang lebih besar dari perkiraan semula. Disamping kinerja ekspor yang membaik tersebut, kegiatan konsumsi swasta juga menunjukkan perbaikan. Hal ini dikonfirmasi oleh peningkatan berbagai indikator konsumsi seperti impor barang konsumsi, penjualan mobil dan motor, serta penjualan ritel. Ke depan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap meningkat sejalan dengan pendapatan yang lebih tinggi karena income effect dari perbaikan ekspor dan terjaganya tingkat keyakinan konsumen.

Secara umum prospek perekonomian Indonesia, disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: Pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) diprakirakan akan terus naik menjadi 5,5-6,0%. Sedangkan BI rate naik menjadi sekitar 7,0-7,5% dari 6,5% dan inflasi meningkat

menjadi 5,2-5,5% dari 2,8%. Prediksi indikator ekonomi makro tersebut dinilai kondusif

untuk melakukan investasi di pasar modal. Estimasi pendapatan dan keuntungan (earning) emiten BEI akan mengalami peningkatan sekitar 14-17% karena semakin membaiknya perekonomian nasional dan kinerja ekspor terutama komoditas perkebunan dan pertambangan.

Di samping itu perekonomian Indonesia didukung tiga pilar penting yaitu pasar domestik yang sangat besar, rencana pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun ke depan, dan

potensi komoditas pertambangan dan perkebunan yang besar. Indikator sektor riil seperti penjualam mobil, motor dan konsumsi semen terus membaik sebagai ukuran tingkat daya beli masyarakat luas. Pasar modal Indonesia masih dinilai murah dibandingkan dengan bursa regional lainnya seperti China dan India dengan PER 21 dan 20,5.Price earning ratio (PER) BEI diprakirakan berada pada tingkat 13-15% pada 2010. Nilai PER tersebut masih jauh di

bawah rerata historisnya yaitu sekitar 35.

Ekonomi dunia semakin kondusif karena penetapan suku bunga global yang relatif rendah sehingga tidak berpotensi membebani pelaku usaha international. Sebagai referensi tingkat bungaFederal Reserve F und Target sekitar 0,25%, Euro stabil pada 1% dan Yen di 0,1-0,2% sampai akhir 2010. Meningkatnya likuiditas dana asing karena membaiknya ekonomi global yang memaksa investor mengalokasikan sebagian dana ke pasar finansial termasuk pasar modal Indonesia.Selanjutnya, akan terjadi aksi pembelian IDR dalam jumlah besar karena masuknyahot money. Fenomena ini juga dipicu oleh disparitas suku bunga USD dengan IDR sebesar 6,6-7,5%.

Secara umum, diprediksi IHSG akan menembus 3.000 dan IDR menguat sekitar Rp 9.000-/USD, bahkan berpotensi lebih kuat lagi. Sedangkan tahun 2011, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, dan target cukup ambisius menekan pengangguran sampai ke level 7 persen (dari level sekarang 8,17 persen). Target tersebut diharapkan dapat dicapai, jika didukung oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga (C) sebesar 5,4 persen; belanja pemerintah (G) sebesar 11,2 persen; laju investasi (I) sebesar 10,9 persen; ekspor (X) sebesar 10,8 persen, dan impor (M ) sebesar 12,1 persen. Inflasi, Suku Bunga dan Kurs Rupiah

Sejatinya, tahun 2011 ini merupakan waktu yang tepat untuk kembali tinggal landas setelah dihantam krisis keuangan dunia pada 2008 silam. Apalagi, Indonesia masih diuntungkan oleh situasi global. Kebijakan suku bunga rendah yang diambil Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, diyakini masih akan memicu masuknya modal ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Potensi peningkatan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade juga makin meningkatkan daya saing ekonomi di tanah air. Optimisme terhadap prospek perekonomian tahun ini, terpancar jelas pada asumsi-asumsi makroekonomi di Undang-Undang No 10/2010 tentang APBN 2011. Untuk kali pertama, nominal produk domestik bruto (PDB) menembus Rp7.000 triliun, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di level 6,4 persen. Kurs rupiah diasumsikan Rp9.250 per USD, suku bunga SBI 3 bulan 6,5 persen, dan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) USD 80 per barel, dengan produksi minyak nasional 970.000 barel per hari. Sementara inflasi ditarget sangat optimis di posisi 5,3 persen.

Namun, optimisme itu bisa buyar dengan makin riilnya ancaman inflasi menjadi ancaman nomer wahid saat ini. Harga pangan terus merangkak naik akibat anomali cuaca dan meningkatnya permintaan seiring pulihnya pertumbuhan. Jika ditambah dengan kebijakan pembatasan konsumsi BBM, ancaman inflasi tinggi tersebut makin terlihat nyata. Asumsi inflasi 5,3 persen memang hampir mustahil terjadi, mengingat inflasi tahun lalu saja sudah nyaris mencapai 7 persem, atau tepatnya 6,96 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan termasuk yang mengakui bahwa asumsi itu kelewat optimistis. “Saya bilang 5,3 persen itu luar biasa. Kalau sampai 6 persen saja saya kira masih optimislah,” kata Rusman.

Jika ngotot ingin inflasi bisa ditekan di posisi 5,3 persen, menurut Rusman, harus dilakukan peninjauan kebijakan-kebijakan yang bisa memicu tingginya inflasi. Selain itu, harga kebutuhan pokok harus benar-benar bisa dikendalikan. “Ada harapan yang signifikan kalau ada panen. Mudah mudahan, karena kalau beras turun mungkin (inflasi) bisa lebih rendah,” katanya.

Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Ahmad Erani Yustika berpendapat pemerintah harus lebih serius dalam melaksanakan kebijakan manajemen pangan dan energi. “Untuk pangan ini, soalnya sudah menumpuk sejak dulu, tapi tidak ada penanganan sama sekali,” kata Erani.

Erani mengatakan, pemerintah seharusnya bisa berbuat lebih banyak dalam mengendalikan inflasi yang didorong oleh kenaikan harga pangan. Selama ini, kata dia, petani dibiarkan menanam dengan informasi yang terbatas. Sehingga, tidak ada pola pasokan yang berkesinambungan. Selain itu, di sisi distribusi penuh dengan mafia. Sehingga, mekanisme pasar tidak berjalan efektif. “Pemerintah tahu pemain-pemainnya. Tapi tidak pernah ada tindakan,” kata Erani.

Sementara, Bulog telah dikerdilkan perannya sejak 1998. Semua penyebab inflasi itu diperparah dengan kondisi infrastruktur yang buruk. Dari sisi Bank Indonesia (BI) diharapkan tidak hanya menekan inflasi dengan kebijakan moneter. Menurut Erani, BI bisa menjadi koordinator yang memandu daerah dalam menangani inflasi. Inflasi tinggi memang menjadi momok masyarakat di segala lapisan. Dengan inflasi tinggi, aset rupiah yang dimiliki setiap orang berkurang nilainya dengan sendirinya. Ibarat kata, begitu bangun tidur, asetnya sudah dirampas inflasi. Ini lah yang membuat panik pasar modal di tanah air di awal tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam akibat kekhawatiran makin tingginya inflasi.

Dari hasil pantauan Bank Indonesia pada pekan pertama tahun ini, pasar keuangan domestik bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. “Hal ini tercermin dari pelemahan IHSG, kenaikan yield SUN dan pelemahan nilai tukar,” kata Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah. Semua pelemahan tersebut disebabkan oleh sentimen negatif inflasi. Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, di sisi moneter, BI masih memiliki cadangan devisa yang cukup untuk meredam sentimen negatif pasar. “Cadangan devisa cukup untuk untuk calm down the market,” katanya.

Menurut Fauzi, kekhawatiran pasar terhadap inflasi tinggi seharusnya tidak perlu terjadi. Sebab, inflasi di Indonesia lebih disebabkan oleh volatile foods, bukan inflasi inti. “Market harus memilah antara inflasi karena kebutuhan masyarakat dengan pangan karena cuaca buruk,” kata Fauzi.

Meski demikian, Fauzi menyebut sejumlah sentimen positif yang bisa menjaga stabilitas makro ekonomi dan pasar keuangan. Selain cadangan devisa bank sentral yang cukup, kondisi APBN juga relatif sehat, pertumbuhan yang relatif tinggi, neraca berjalan yang masih surplus, serta potensi kenaikan rating Indonesia menjadi investment grade. Ia menambahkan, pemerintah harus tangkas dalam mengendalikan inflasi. Jika pemerintah dinilai tidak kredibel dalam mengendalikan kenaikan harga, investor bisa melepas sebagian portofolionya. Tak hanya kalangan berduit yang bisa membeli saham dan obligasi yang menjadi korban inflasi. Masyarakat miskin juga menjadi korban. Bahkan, mereka adalah pihak yang paling terdampak oleh inflasi akibat tingginya harga pangan. Melejitnya harga beras dan cabe diperkirakan akan menaikkan angka kemiskinan. Pemerintah telah memiliki enam skenario dampak tingginya inflasi terhadap angka kemiskinan. Semuanya adalah skenario buruk.

Angka kemiskinan pada Maret 2011 dipastikan akan lebih tinggi dibandingkan Maret 2010 yang sebesar 13,3 persen. Skenario terbaik adalah harga beras naik 7,1 persen dab cabai 37 persen. Dengan skenario itu, angka kemiskinan naik menjadi 13,8 persen. Sedangkan dalam skenario terburuk, dengan harga beras meningkat 21,3 persen dan cabai 171 persen, angka kemiskinan melonjak menjadi 14,5 persen.

Bank Indonesia pada akhir tahun 2010 mengumumkan penyempurnaan kebijakan lanjutan terkait dengan sektor moneter dan perbankan. Kebijakan lanjutan ini disempurnakan karena melihat prospek di tahun depan dan tantangn yang telah dilalui selama tahun 2011. Kebijakan lanjutan yang diumumkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution pada 29 Desember 2010 ini bertujuan untuk untuk memperkuat stabilitas moneter dan sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dan pada saat bersamaan memperkuat ketahanan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gejolak perekonomian.

Dalam siaran pers Bank Indonesia ini juga menginformasikan secara gambling 23 kebijakan lanjutan yang terdiri dari, 2 kebijakan penguatan stabilitas moneter, 6 kebijakan mendorong peran intermediasi perbankan, 9 kebijakan meningkatkan ketahanan perbankan, 3 penguatan kebijakan makroprudential, dan 3 penyempurnaan kebijakan dalam penguatan pengawasan. Dari 23 penyempurnaan kebijakan menutup tahun 2010 dan akan berlaku pada tahun 2011 ini, ada 3 kebijakan lanjutan yang membahas mengenai perbankan syaiah secara langsung yaitu mengenai Pengaturan Penilaian Kualitas Aktiva Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah serta Kualitas Aktiva Bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, penyempurnaan Pengaturan Restrukturisasi Pembiayaan pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah dan penyempurnaan Batas Maksimum Pembiayaan Dana (BMPD) BPR Syariah.


BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Prospek Perekonomian di Indonesia diperkirakan akan lebih baik dari perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6,0% pada tahun ini dan di perkirakan akan meningkat menjadi 6,0-6,5% pada 2011. Di samping tetap kuatnya permintaan domestik, perbaikan terutama bersumber dari sisi eksternal sejalan dengan pemulihan ekonomi global. Hal itu juga menjadi alasan terbesar prospek perekonomian Indonesia mampu bertahan dan berkembang.

Komite Ekonomi Nasional (KEN) menilai, prospek perekonomian Indonesia masih akan berkembang dengan baik pada tahun 2011. Namun, KEN menilai masih ada beberapa tantangan dan risiko yang timbul yang perlu diantisipasi sejak dini. Tantangan dan risiko itu berasal dari domestik dan global. Bila tantangan dan risiko tersebut bisa diatasi, KEN optimis prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik lagi. Berikut tantangan dan risiko domestik yang perlu diantisipasi itu;

1. Tantangan atas kemungkinan terjadinya gelembung nilai aset (asset bubble) dan inflasi karena kurangnya daya serap ekonomi nasional terhadap masuknya modal asing, termasuk jangka pendek.

2. Risiko terhentinya arus modal masuk dan bahkan terjadinya penarikan kembali modal masuk dalam jumlah besar.

3. Subsidi energi dan alokasi yang tidak efisien.

4. Risiko inflasi, terutama dipicu oleh komponen makanan, pendidikan, dan ekspektasi inflasi

5. Infrastruktur dan interkoreksi (transportasi) yang kurang memadai.

6. Peningkatan daya saing, perbaikan pendidikan dan pelatihan serta penambahan pasokan tenaga teknik terdidik, menjadi penghambat bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi prpoduksi (utamanya yang padat karya), menghambat investasi dan mengurangi penciptaan nilai tambah dan lapangan pekerjaan.

7. Daya serap atau belanja pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang masih belum optimal.

8. Risiko berkaitan dengan politik dan hukum.

9. Risiko perubahan iklim, bencana alam, dan krisis keuangan.

Sementara tantangan dan risiko global pada 2011 yang perlu diantisipasi, KEN mencatatkan diantaranya:

1. Pemulihan ekonomi negara maju masih akan lama akibat persoalan yang lebih struktural sehingga akan berdampak negatif terhadap pemulihan ekonomi dan perdagangan dunia.

2. Geopolitic-Geoeconomy (G2), dimana penyelesaian persoalan ketidakseimbangan ekonomi dunia, perang kurs, dan potensi perang Korea sangat tergantung G2 (China-AS), bukan G20. Adanya hubungan saling membutuhkan, "benci tapi rindu" anatara AS dan China, sehingga seharusnya mereka mencari penyelesaian secara kooperatif.

3. Kebijakan banjir likuiditas AS melalui Quantitative Easing 2 diambil dalam rangka menyelamatkan diri sendiri. Genderang perang kurs telah ditabuh, dipicu oleh kebijakan AS membanjiri likuiditas dan melemahkan dollar terhadap mata uang dunia. Diperkirakan, kebijakan ini masih akan terus berlangsung sepanjang tahun 2011.

4. Dilema perang kurs, dan

5. Risiko gagal bayar utang negara-negara Eropa.

Di samping itu perekonomian Indonesia didukung tiga pilar penting yaitu pasar domestik yang sangat besar, rencana pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun ke depan, dan

potensi komoditas pertambangan dan perkebunan yang besar. Indikator sektor riil seperti penjualam mobil, motor dan konsumsi semen terus membaik sebagai ukuran tingkat daya beli masyarakat luas.

B. Saran

Adapun saran yang hendak penulis sampaikan dalam pembahasan makalah ini sebagai berikut:

1. Setiap pembaca dapat menempuh cara yang lebih mudah untuk dapat memberikan pengkajian yang lebih lanjut;

2. Perlunya pengkajian lebih lanjut untuk melengkapi segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim.http://idsaham.com/blog-news-saham-Prospek-Ekonomi-Makro-2011-Optimisme-Tinggi-Tertahan-Inflasi--16435.html.Tanggal 19 Januari 2011 Jam 20.16 Wita.

2. Anonim.http://klasik.kontan.co.id/nasional/news/54839/Inilah-tantangan-dan-risiko-ekonomi-2011-menurut-KEN. Tanggal 19 Januari 2011 Jam 20.27 Wita.

3. Anonim.http://www.raywhitegading.com/article/1/447/prospek-ekonomi-baik-di-2011/. Tanggal 19 Januari 2011 Jam 20.38 Wita.

4. Anonim.http://zonaekis.com/search/prospek-ekonomi-makro-2011. Tanggal 19 Januari 2011 Jam 21.06 Wita.

5. Djajendra.http://djajendra-motivator.com/?p=2408. Tanggal 19 Januari 2011 Jam 21.15 Wita.

6. Ketua (LPPM) Unika Atma Jaya Jakarta.http://www.sbm.itb.ac.id/outlook-makro-ekonomi-indonesia-2011.html. Tanggal 19 Januari 2011 Jam 20.54 Wita.

7. Prasetyantoko,A.http://mertodaily.com/index.php/component/content/article/36-domestic-economic-news/385-prospek-perekonomian-indonesia-2011. Tanggal 19 Januari 2011 Jam 20.56 Wita.

8. Zainuddin, A. Rahman.The Post corporate world.2002.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

DAFTAR ISI

Halaman judul

Kata Pengantar............................................................................................................................I

Daftar Isi................................................................................................................. ... ................II

Bab I Pendahuluan.................................................................................................... ..............1

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penulisan

D. Manfaat Penulisan

Bab II Pembahasan.....................................................................................................................3

A. Kondisi Perekonomian Sampai Sekarang

B. Prospek Ekonomi Makro Indonesia Tahun 2011

Bab 3 Penutup..........................................................................................................................13

A. Kesimpulan

B. Saran

Daftar Pustaka................................................................................................................15

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas segala nikmat yang telah di-limpahkan-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah ini sebagaimana mestinya.

Penyelesaian makalah ini menjadi salah satu tugas dalam Mata Kuliah Pengantar Ekonomi Makro. Oleh karena itu, penyusunan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan para pembaca tentang beberapa hal yang dibahas dalam makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini kurang sempurna karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan pada masa yang akan datang.

Akhirnya penulis sangat berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama bagi penulis.

Makassar, Januari 2011

Penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar